Pemerintah Presiden Prabowo resmi mendaftarkan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) melalui pengiriman expression of interest oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dalam KTT BRICS Plus di Kazan, Rusia.
Pada tahun 2023, Indonesia pernah mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan BRICS, namun Presiden Joko Widodo kala itu memutuskan untuk mengkaji lebih lanjut dan menolak keputusan tergesa-gesa.
3 Alasan RI Bergabung dengan BRICS
Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Indonesia sebelumnya mempertahankan posisinya sebagai kekuatan penengah dalam MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Australia) untuk menjaga posisi tengah dalam G20.
Pemerintah saat ini, di bawah Presiden Prabowo, mengacu pada politik luar negeri bebas aktif, sesuai amanat alinea keempat UUD 1945 dan UU No. 37 Tahun 1999.
Perhitungan dan Analisis
Kebijakan politik luar negeri bebas aktif dimaknai sebagai keterbukaan dan kebebasan dalam beraliansi dengan blok-blok yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang maksimal bagi Indonesia.
Meskipun Indonesia sudah menunjukkan minat bergabung, pemerintah masih melakukan perhitungan dan analisis terhadap manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dengan menjadi anggota BRICS.
Harapan di Masa Depan
Diharapkan, keikutsertaan Indonesia dalam forum global seperti BRICS dapat memperluas peluang perdagangan dan investasi, mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo.
sumber:ig/theeconomicinfluence.id
